Jaringan: hidayatullah | dunia.pelajar | metrotv | lombok post | rss komentar



Maafkan Pak Guru

a Allah. Saya mulai merasakan lelah mengajar di sekolah ini. Memang kurang setahun, baru enam bulan saya menghabiskan waktu bersama anak-anak di desa ini, Jurang Koak. Tapi, energi saya mulai menyusut hilang entah ke mana.

Bukan hanya energi, kesabaran dan kecintaan, sepertinya, mulai menipis. Buktinya tadi pagi, hampir setengah murid di kelas saya kasari. Saya tahu itu bukan hak mereka dan juga bukan kewajiban saya untuk memukul. Tapi, mereka... Hhhh

Perjalanan ini hampir saja berhenti di sini, jejak semangat perubahan pun hampir pupus di awal perjalanan ini. "Saya minta maaf, anak-anak," saya membatin.

Siang ini saya ingin semua tahu, bahwa tadi pagi saya memarahi dan 'memukul' murid saya. Saya heran, penjelasan apalagi yang mereka tidak mengerti. Padahal saya ingin membebaskan pilihan mereka sendiri untuk menentukan proses belajar, eh masi saja bertanya.

Saya tahu, dari ketidakpahaman mereka atas penjelasan proses belajar mengajar ilmu sosial tadi pagi berawal dari mereka yang keasikan ama dunia mereka sendiri, bermain dan bermain.

Di awal sudah saya tegaskan pada mereka, "Sudah siap belajar? Siap menikmati pelajaran?" Dan mereka serempak menjawab, "Ya, siap." Eh, tigapuluh menit selanjutnya, setelah saya memantau hasil tugas catatan yang saya perintahkan ternyata mereka masih tidak paham apa yang mereka harus tulis.

Padahal, menurut saya, instruksi menulis catatan di pelajaran IPS tadi pagi sangat jelas. Halaman buku, berapa poin yang dicatat, buat apa dicatat, dan batas waktu untuk mencatat. Tapi ditiap saya bertanya pada beberapa anak, jawab mereka, "Yaq ku toang, Pak guru."

Sesering apa saya bertanya, sesering itu pula saya menghela nafas. "Apa perintah saya yang kurang jelas ya," saya membatin sembari duduk di kursi belakang meja kerja. Beberapa menit saya berpikir mengintropeksi proses belajar yang baru satu jam berlalu ini.

Apakah karena saya terlalu memanjakan mereka dalam setiap proses belajar, hingga mereka acuh dengan apa yang saya tugaskan? Ataukah karena saya terlalu keras dan cepat memberi instruksi? Tidak juga. Beberapa dari mereka, yang menurut saya mereka lebih cerdas dan cepat tanggap atas perintah, bisa mengerjakan tugas mencatat.

Di tiap perintah saya juga gak lupa menanyakan, "Ada yang tidak dimengerti? Ada yang mau bertanya?" Mereka pun ada yang bertanya, walau beberapa dari mereka saya perhatikan ada yang diam, tidak tahu yang ingin ditanyakan.

Itulah sebabnya saya mengelilingi kelas, melihat mereka mencatat. Tapi diperjalanan itu ternyata semakin banyak yang bertanya dan membuat saya kewalahan menanganinya.

Lelah membuat emosi saya mulai bergejolak, amarah saya gak terbendung. Polpen dan spidol beberapa kali terbang menyentuh keras tubuh mereka.

Sedih. Menyesal yang tertinggal di hati ini setelah itu. Takutnya mereka jera bersekolah. Hingga akhirnya, menurut mereka, "Sekolah Sudah Mati!" Tidaaak....

Saya teringat School is Dead (1971) karya Everett Reimer. Tahun 1970-an, Everett Reimer menggelindingkan sebuah wacana stagnansi pemikiran pendidikan. Kritiknya teramat tajam sampai-sampai membuat skeptis para pakar dan praktisi pendidikan saat itu.

Saya tidak mau, murid-murid saya di sekolah tidak menemukan apa yang mereka cari. Sekolah hanya sekedar pertemuan rutin formal yang menjemukan. Proses belajar-mengajar hanya sebatas transfer nilai-nilai kemapanan (status quo). Pendidikan "gaya bank!" (banking concept of education)—meminjam istilah Paulo Freire.

Saya bener-bener minta maaf pada murid-murid, bila itu yang mereka pikirkan, bila amarah saya membuat mereka merasakan yang dirasakan Doris Lessing. Na'uzubillah.

Tapaki Selanjutnya..

Posted by rusydi hikmawan 1:22:00 PM 0 komentar more  



Pematik Kebisuan

asca diperdengarkan hasil penyadapan terkait upaya kriminalisasi KPK di sidang MK, semua masyarakat hampir tidak ada yang tidak berkomentar.

Saya aja yang tinggal jauh di kampung, jauh dari pusat kota, banyak mendengar komentar-komentar kritis dari masyarakat Kabupaten Lombok Timur. Terutama bapak mertua saya.

Di sela-sela mengurusi ayam peliharaannya, gak jarang dia mengomentari berita TV yang tiap hari ditontonnya. "Hukum sudah gak ada tempetnya," salah satu komentarnya. Saya hanya diem mendengarnya.

Bukan mertua saya saja, para aktivis mahasiswa pun sibuk unjuk gigi saling dukung di jalanan hingga dunia maya, fesbuk. Salah satu Group fesbuk genjar mengiritisi perkembangan kriminalisasi KPK beberapa hari ini.

Sebuat saja KAMMI. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ini juga mengiritisi apa yang terlontar dari bibir manis Fahri Hamzah, politisi PKS anggota DPR RI komisi 3.

Kerja Komisi Pemberantasan Korupsi selama ini ngawur dan selalu saja meremehkan polisi maupun kejaksaan

Fahri Hamzah

“KAMMI menyesalkan dan prihatin dengan sikap Fahri Hamzah dan PKS,” kata Ketua Umum KAMMI, Rijalul Imam. Rijal berharap para anggota Dewan termasuk Fahri Hamzah yang mantan Ketua Umum KAMMI itu melihat fakta. “Saya kira jadi ironi, Fahri yang ikon Reformasi malah ada kesan melemahkan KPK sebagai produk Reformasi,” ujarnya.

Walau pematik kebenaran telah dinyalakan, tapi ternyata beda di gedung DPR RI yang sejatinya menjadi cerminan suara rakyat. Dari sumber berita RRI,
Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR dengan jajaran Mabes Polri yang berlangsung selama 7 jam lebih ternyata kebanjiran pujian.

"Saya mengapresiasi polri karena tidak terpancing dengan statement-statement yang ada meski sangat keras," ujar Wakil Ketua Komisi III, Fahri Hamzah, pada penghujung Raker di Gedung DPR, Senayan, Jumat (7/11/2009). Anggota Komisi III lainnya juga memberi apresiasi kepada Polri yang tetap teguh dalam tekanan yang berat serta berani mengabaikan rekomendasi tim 8 untuk menahan Anggodo.

Lalu, kalau wakil rakyat yang kita pilih saja bertindak membela, menurut KAMMI secara mata telanjang Polri bisa dinyatakan salah, pihak kepolisian dan telah meniup pematik kebenaran. Apakah kita menerima logika para politisi oportunis itu?

Pematik kebisuan memang harus terus dihidupkan, jangan biarkan kasus ini menghilang. Terus suarakan kebenaran, hukum harus ditegakkan tanpa tebang pilih.

Tapaki Selanjutnya..

Posted by rusydi hikmawan 1:11:00 PM 0 komentar more  



Iffah Sebatas Status

erada di tanah orang, hidup gak seramai biasanya. Mengajar di sekolah dasar jauh dari perkotaan, tinggal di perkampungan, Jurang Koak. Saya pun harus nyari komunitas, sahabat baru biar survive dengan status baru: bapak rumah tangga.

Selain blog ini, jauh sebelum menjadi guru SD, saya sudah akrab dengan komunitas dunia maya lainnya: friendster, milis, group, atau facebook. Facebook memang jadi jawaban yang tepat saat ini. Bisa cari teman yang berasal dari satu kampung, bahkan mencari blogger aktif.

Namun anehnya, para facebooker (sebutan pengguna facebook) yang meng-update status lupa atau sengaja menulis hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya.

Lihat saja beberapa status facebook (ini sebelumnya diposting salah satu group di Facebook):
#Seorang wanita menuliskan, "Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?" Eh, kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan, "Mau ditemanin? Dijamin puas deh..."

#Seorang wanita lainnya menulis status, "Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:" Kemudian komen2 nakal bermunculan...

Bahkan ada yang menulis, "bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....", ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.

Parahnya, (give me apologize before:), ada juga yang nulis, "Mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih"

Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita. Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang ifah (kemuliaan diri) dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya ditutup dan tidak perlu ditampilkan.

Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah, yaitu Muhammad, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah, "Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?" maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab, "Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini". Rasul dengan senyum teduhnya berkata, "Baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini". Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah....

Ingatlah Abdurahman bin Auf mengikuti Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya, maka Abdurahman bin Auf mengatakan, "Tunjukan saja saya pasar."

Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, "Malu itu sebahagian dari iman". (Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi pertanyaan besar buat kita umat Islam, hegemoni 'kesenangan semu' dan dibungkus dengan 'persahabatan fatamorgana' ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang malu, tentang menjaga kehormatan diri dan keluarga.

Dan Rasulullah menegaskan dengan sindiran keras kepada kita, "Apabila kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu mau." (HR. Bukhari). Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib diri, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan 'kesenangan', 'gurauan' membuat iffah kita luntur tak berbekas hanya sebatas status.

Tapaki Selanjutnya..

Posted by rusydi hikmawan 1:44:00 PM 3 komentar more  



Berdamai Dengan Neolib

asti ada yang menganggap saya tidak idealis lagi. Tidak idealis karena tidak progresif menentang kemunafikan lagi, sudah mentok jadi bapak yang tinggal mengurusi anak dan istri.

Prasangka yang sah diajukan siapa saja. Bukan hanya Donny Gahral Adian, keraguannya akan wacana neoliberalisme, mungkin, benar adanya bahwa neoliberalisme hanya teoretisasi di atas kertas.

Ibarat hantu, wujud terukurnya di realitas nyata sukar ditangkap. Paling banter terlihat jejak pikirannya dalam beberapa kesepakatan ekonomi global. Lalu, buat apa kita memukuli setan bernama neoliberalisme saat musuh sebenarnya bersembunyi di belakang republik ini?

Sebagai gagasan, neoliberalisme telah mendukung ekonomi monetaris yang nyaris tak bercelah, gagasan yang sejiwa dengan homo oeconomicus-nya manusia. Homo oeconomicus yang hanya melihat kepentingan pribadi dan mengerahkan rasionalitasnya.

Itu sebabnya, walau sulit dibuktikan, seperti tulisan Bang Donny dalam Neoliberalisme Kertas: neolib hanya ada di atas kertas. Namun untuk sebuah kekuasaan, sudah pasti. Mengutip kalimat Ekonom Fuad Bawazier yang menyebut perpaduan antara pro neolib dan pro rakyat tepat untuk mengisi posisi menteri yang membawahi bidang perekonomian dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendatang.

Memang saat kompetisi bursa pilpres 2009, wacana dan stigma kadung menempeli Pak SBY sebagai antek neolib. Itu sebabnya Fuad mengatakan, sebagai bentuk perdamaian ideologi, presiden harus mempertimbangkan untuk mengurangi sosok yang pro neolib untuk tim menteri ekonomi pada kabinet mendatang. Pasalnya, pada kabinet periode 2004-2009 ini, banyak sosok yang mengusung pro neolib telah melakukan banyak pelanggaran dan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

Dan memang di tahun 2004, saat saya masih menjabat di salah satu organisasi nasional, Sri Mulyani ribut dibicarakan mahasiswa sebagai antek IMF. Namun, melihat kinerja selama ini, Ekonom Indonesian Development of Economics and Finance (INDEF) Fadil Hasan meyakini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan tetap duduk sebagai menteri dalam jajaran kabinet mendatang.

Bisa saja, salah satu hasil positif kinerja Mba Sri, misal, dilihat dari perkembangan perekonomian Nusa Tenggara Barat berkembang relatif baik saat ini. Indikatornya dilihat dari data penghimpunan dana kredit masyarakat yang disalurkan kepada nasabah atau LDR (loan to deposit ratio) cukup bagus dalam tiga bulan terakhir ini.

Seperti penjelasan Tri Dharma Pimpinan Bank Indonesia Mataram, "Kalau dulu mungkin, daerah ini dijadikan daerah funding, sehingga mungkin banyak capital flight, sekarang justru kalangan perbankan tersedot dananya oleh para penggiat ekonomi yang membutuhkan pembiyaan untuk kegiatan usahanya."

Selain itu, dinamika perekonomian di NTB terlihat secara empiris seperti terus bertambahnya komplek pertokoan (pasar modern), jumlah bank yang tahun 2006 sebanyak 15 bertambah mnjadi 19 bank pada Agustus 2009. Indikasi terlihat dari LDR pada Agustus 2009 mencapai 103,31 persen, atau naik dari 95,45 persen tahun 2008."

Itu sebabnya, pasar adalah institusi paling sempurna bagi kebebasan homo oeconomicus. Pasar adalah institusi sukarela tempat homo oeconomicus memuaskan preferensinya. Bisa dibilang, itu satu-satunya institusi paling demokratis bagi kepelbagaian preferensi manusia. Titik keseimbangan bagi dinamisme preferensi pelaku pasar bertumpu pada harga.

Karena itu, tugas pokok para pengambil kebijakan adalah menjaga agar pasar bekerja sempurna. Artinya, pengambil kebijakan berfungsi sebagai regulator tak berpihak bagi kelangsungan mekanisme pasar. Idealisasi ini menjegal kemungkinan pengambil kebijakan mengganti jubah menjadi pelaku pasar itu sendiri.

Idealisasi ini bekerja bagi arah sebaliknya. Pelaku pasar yang berganti jubah menjadi pengambil kebijakan juga harus melepas jubah pasar. Konflik kepentingan niscaya terjadi jika pelaku pasar dan pengambil kebijakan menyatu dalam satu tubuh.

Tidak salah bila siapapun presiden atawa menteri yang akan mengambil kebijakan untuk kesejahteraan rakyat, jubah yang mereka pakai harus dicocokan dulu. Jubah kekuasaan politisi harus berpihak pada rakyat, harus berdamai dengan ideologi apapun itu. Bisa gak?

Tapaki Selanjutnya..

Posted by rusydi hikmawan 7:35:00 PM 0 komentar more  



Tewas Aksara

ernyata belajar membaca di negeri ini harus punya lebih dari satu nyawa, harus berani mati untuk bisa membaca rangkaian aksara. A, B, C masih ikhlas dieja, dirangkai Amaq Basri.

Amaq Basri dan beberapa kawannya setiap hari mengikuti program kelompok belajar di desanya, Burnei. Desa yang terletak jauh di dalam hutan di pinggir perbatasan Sembalun.

Tapi belum selesai mampu membaca, Amaq Basri tewas dalam perjalan ke tempat belajarnya, innalillahi wa innailaihi rojiun. Usut punya usut, ia terlalu lelah harus bekerja siang hinga malam, ditambah lagi dengan program belajarnya. Itu untuk sebuah aksara.

Delapan September kemaren negeri ini memang sepi dalam perayaan Hari Aksara Internasional Ke – 44. Amaq Basri yang masih susah membaca menjadi bukti tingginya angka buta aksara di Indonesia.

Awalnya, Hari Aksara Internasional, sebagai upaya pemberantasan buta aksara di dunia, tercetus di Taheran Iran pada tahun 1965 dalam Kongres antar menteri pendidikan sedunia, yang saat itu dideklarasikanlah sebuah kesepakatan untuk memberantas buta aksara sedunia.

Prakarsa tersebut tercetus atas dasar kenyataan bahwa 40% penduduk dewasa di seluruh dunia pada saat itu, menyandang status buta aksara. Deklarasi tersebut mengharuskan komitmen dunia untuk melawan buta aksara dengan meratifikasi hasil kesepakatan tersebut oleh seluruh delegasi yang hadir. Oleh sebab itu setiap negara harus menciptakan syarat-syarat, baik anggaran maupun infrastruktur yang mendukung pemberantasan buta aksara.

Di Indonesia sendiri, berbagai program diklaim telah dijalankan pemerintah dalam memberantasi buta aksara, mulai dari program wajib belajar 9 tahun, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pembentukkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sampai merealisasikan anggaran 20% dari APBN dan APBD untuk pendidikan, dan berbagai program lainnya.

Akan tetapi, setelah 44 tahun pemberantasan buta aksara dicanangkan oleh dunia internasional, ironisnya di Indonesia masih terdapat lebih dari 15 juta penduduknya yang menyandang status buta aksara. Dari total jumlah penduduk yang buta aksara, 64% adalah perempuan dan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Belajar, secara formal maupun non formal, memang berperan penting dalam memberatas buta aksara. Dan negara tentu bertanggungjawab dalam menyelenggarakan proses pembelajaran sebagai hak dasar seluruh rakyatnya.

Hal itu tertuang jelas dan tegas dalam pasal 13 Konvenan Internasional tentang Hak Sosial, Ekonomi, dan Budaya, demikian pula dalam pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 dan pasal 49 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menurut Dirjen Pendidikan Non Formal Dan Informal Depdiknas, Hammid Muhammad, ada beberapa faktor penyebab tingginya buta aksara di Indonesia, antara lain tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. Tapi, sebagian besar penyebab tingginya angka buta aksara di Indonesia, adalah terkait dengan persoalan ketersediaan akses pendidikan bagi rakyat.

Suatu ketimpangan memang. Ketika pemerintah mengklaim bahwa akses pendidikan bagi rakyat telah dijalani melalui berbagai program. Namun, buta aksara di Indonesia masih saja tinggi.

Ketimpangan tersebuat berawal dari prespektif pemerintah yang keliru dalam menyediakan akses pendidikan bagi seluruh rakyat. Terkait dengan realisasi anggaran 20% APBN dan APBD, dalam pasal 31 ayat (4) UUD 1945 dan pasal 49 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), menyatakan bahwa besarnya dana pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD, adalah diluar gaji pendidik dan pendidikan kedinasan.

Misal, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah meningkatkan anggaran pendidikan hingga empat kali lipat dari sebelumnya, 2008 jumlahnya hanya Rp 51,522 miliar maka tahun 2009 ini menjadi Rp 240,722 miliar yang anggaran tersebut terpecah menjadi beberapa pos anggaran.

Di bidang pendidikan, diberikan melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Rp 24,057 miliar, bantuan keuangan kepada kabupaten-kota untuk biaya sharing pendidikan dan guru kontrak Rp 130,420 miliar. Selain itu, hibah juga diberikan kepada lembaga pendidikan swasta maupun negeri. Sedangkan dalam bentuk bantuan, anggaran diberikan kepada pondok pesantren, pemberdayaan Badan Akreditasi Sekolah, dan beasiswa miskin sebanyak Rp 63,588 miliar.

Hal tersebut sama seperti total APBN 2009 yang dialokasikan untuk pendidikan. Untuk Departemen Pendidikan Nasional Rp 52,0 trilliun, Rp 46,1 trilliun untuk meningkatkan penghasilan guru dan peneliti, serta untuk Departemen Agama sebesar Rp 20,7 trilliun. Sehingga, berdasarkan ketentuan pasal 31 ayat (4) UUD 1945 dan pasal 49 ayat (1) UU Sisdiknas, anggaran pendidikan untuk tahun 2009 sesungguhnya hanya mencapai 4,63% dari total rencana anggaran belanja negara.

Itu sebabnya mengapa sekalipun presentase anggaran pendidikan dalam APBN 2009 telah mencapai 20%, belum dapat menjawab persoalan penyediaan akses pendidikan yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat.

Lalu, bagaimana faktor akses belajar yang yang diungkapkan Hammid Muhammad terselesaikan. Kalau anggaran masih jauh dari semestinya. Kesempatan belajar membaca rakyat jadi taruhannya: tewas atau hidup tidak mampu membaca.

Tapaki Selanjutnya..

Posted by rusydi hikmawan 1:47:00 AM 0 komentar more